Selasa, 01 Juni 2010

TRITUNGGAL

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19)

Inilah berita utama amanat baptisan yang harus dilakukan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Petunjuk mengenai keesaan dalam ketigaan dalam perintah baptisan untuk masuk dalam iman kristen. Ketigaan nama pribadi disini jelas karena ketiga nama dihubungkan dengan kata ‘dan’ (yunani: kai) yang menunjukkan perbedaan pribadi satu nama dengan nama lainnya.

Banyak petunjuk lainnya dalam Alkitab (yang ditulis pada abad I) mengarah pada kejamakan dan ketritungggalan Allah. Namun ada yang menuduh bahwa ajaran Tritunggal itu diciptakan oleh gereja dalam Konsili Nicea (325) seperti yang menonjol dipopulerkan film tenar ‘The Da Vinci Code.’ Benarkah tuduhan itu?

ALIRAN ABAD XIX

Sejak awal gereja-gereja pada umumnya mengaku apa yang dikenal dengan keyakinan ‘Tritunggal’ yaitu ‘Allah yang Esa dengan Tiga Kepribadian yang bernama Bapa, Anak dan Roh Kudus.’ Namun dalam perjalanan sejarah sewaktu-waktu timbul kelompok-kelompok sektarian (sekte) yang menolak ajaran itu, dan gejala ini muncul kembali dalam diri aliran-aliran yang tumbuh pada abad XIX.

Ada tiga kecenderungan aliran abad XIX, yaitu yang bersifat (1) Trinitarian yang tetap mengikuti faham gereja-gereja pada umumnya, (2) Mistik/Monisme, dan (3) Non-Trinitarian yang menolak Tritunggal dan menggantinya dengan keyakinan Sabelian, Binitarian, atau Arian.

Pertama, sekalipun merupakan aliran yang menekankan ajaran tertentu, aliran Adventisme baik yang dipelopori oleh William Miller (menekankan Akhir Zaman) maupun 7thday Adventist (Ellen Gould White yang menambahkan dengan ajaran Sabat dan Taurat), dan Pentakosta (menekankan karunia roh), ketiganya tetap mempercayai keyakinan Tritunggal yang dipercayai gereja-gereja pada umumnya, bahkan aliran Pentakosta menyegarkan kembali iman gereja-gereja akan Roh Kudus sebagai berpribadi yang berkuasa;

Kedua, aliran Mormon dan Christian Science menolak Allah Tritunggal yang berpribadi dan menggantikannya dengan Mistik/Monisme. Dalam pasal kepercayaan pertama dari Mormon memang disebutkan bahwa mereka percaya Tritunggal, namun pengertiannya dimengerti secara mistik. Allah dimengerti sebagai superhuman, setiap orang dilahirkan dari roh Allah seperti Yesus, dan sebagai seorang Mormon berusaha dengan kehendak bebasnya dan kekuatannya sendiri menuju status Allah atau menjadi serupa dengan Allah. Bagi Christian Science realita hanya satu yaitu Allah yang adalah roh dan manusia roh yang adalah bagian/ekspresi dari roh Allah itu. Allah adalah semua dan semua yang baik, namun untuk membedakan dengan aliran mistik New Thought yang hadir pada masa yang sama, konsep mistik Christian Science dikaitkan dengan pengertian kristen sehingga disebut sebagai ‘theomonisme.’

Ketiga, Aliran lainnya menolak Tritunggal yang juga menekankan perlunya pemulihan nama YHWH (Sacred Name Movement / SNM / Gerakan Nama Suci). Yang pertama adalah Saksi-Saksi Yehuwa yang menganut faham Arian bahwa Yesus itu ciptaan lebih rendah dari Allah dan roh kudus hanya tenaga aktif Allah. SSY juga memulihkan nama YHWH yang disebut Jehovah. SSY juga disebut Unitarian yang percaya bahwa Allah itu hanya satu namanya Jehovah. Berbeda dengan aliran Mormon, Christian Science, 7thday Adventist, dan SSY yang menjadi organisasi yang solid dan menjadi besar, dari Adventisme kemudian lahir berbagai aliran SNM yang terpecah belah menjadi banyak aliran karena perbedaan dalam menafsirkan ejaan nama YHWH dan doktrin non-trinitarian mereka.

Kelompok yang menyempal dari 7thday Adventist adalah Church of God, 7thday (ini berbeda dengan Church of God yang trinitarian, gereja Pentakosta yang tertua dan terbesar). COG, 7thday menganut Binitarian, yaitu percaya bahwa ada dua pribadi Allah, Bapa dan Anak, Anak lebih rendah dari Bapa dalam tingkatan, dan mengikuti faham SSY mengenai roh kudus yang dianggap tenaga batin Allah. COG, 7thday belum mempersoalkan pemulihan nama YHWH namun dari sini kemudian berpecah-belah banyak aliran yang menekankan pemulihan nama YHWH dimulai dari Assembly of Yahweh. Aliran-aliran SNM yang lahir dari Assembly of Yahweh ada yang mengikuti Binitarian, ada yang menganut Modalisme / Sabbelian (Sabelius mengajarkan bahwa YHWH dalam PL disebut Bapa, dalam PB disebut Anak, dan setelah hari Pentakosta disebut Roh Kudus), dan ada juga yang mengikuti SSY menganut Unitarian / Arian (YHWH itu tunggal dan Yesus adalah ciptaan lebih rendah dari YHWH dan Roh Kudus itu tenaga batin ilahi). Di samping itu aliran-aliran sempalan ini berbeda-beda dalam mengeja nama YHWH, yaitu a.l. Jahwe, Jahve, Jahavah, Jahovah, Jahaveh, Jahveh, Yahveh, Jahweh, Yahweh, bahkan ‘The Scripture’ menolak penggunaan ejaan Yahweh dan memilih kembali menggunakan bahasa asli ibraninya yaitu tetragrammaton.

NON-TRINITARIAN

Bagaimana dengan aliran Non-Trinitarian ini? Apa yang sebenarnya dikatakan Firman Tuhan?

Modalisme / Sabellian menyebutkan bahwa YHWH itu esa, dan Bapa, Anak dan Roh Kudus hanya cara penampakkan (modus) dari YHWH, jadi baik Bapa, Anak dan rohkudus hanya modus dari YHWH. Faham ini menuai masalah karena tidak dapat menjelaskan mengapa ketiganya sering disebut sebagai pribadi yang berbeda, yang kadang-kadang hadir bersama (pembaptisan Yesus) namun juga sering berbeda tempat dan saling berinteraksi termasuk berdialog (Doa Tuhan Yesus). Stefanus melihat Yesus disebelah kanan Bapa disurga dan Roh Kudus mendampinginya di bumi (Kis.7:55-56), demikian juga kalau ‘Yahsua adalah YHWH’ sendiri kalau begitu YHWH pernah dilihat manusia dan pernah disalib lalu mati? Ini tidak sesuai dengan firman-Nya (Yoh.1:18) maupun kemahakuasaan-Nya.

Binitarian berbeda dengan Trinitarian, dan sekalipun menerima Yesus sebagai pribadi dan Tuhan, Yesus dianggap masih lebih rendah dari Bapa dalam tingkatan (rank), dan Roh Kudus hanya tenaga batin Allah. Sekalipun dalam Alkitab ‘ruach’ sering diartikan sebagai kekuatan/tenaga Allah, Alkitab juga mengemukakan bahwa ‘Ruach’ juga berarti ‘pribadi Roh,’ seperti adanya ungkapan ‘Allah itu Roh.’

Unitarian / Arian menyebut Yesus ciptaan lebih rendah dari Jehovah dan roh kudus hanya tenaga aktif Allah. Berbagai usaha digunakan SSY untuk membuktikan hal ini seperti menambah kata ‘suatu’ (Yoh.1:1) kemudian menciptakan doktrin yang aneh seperti Yesus ciptaan lalu diangkat menjadi anak dan rekan sekerja Allah, dan Yesus itu titisan malaekat Mikhael dsb.nya. Demikian juga status Yesus dikala masih menjadi manusia dianggap bersifat kekal jadi lebih rendah dari Allah (Yoh.14:28). Alkitab sebenarnya banyak menunjukkan ke tiga pribadi Allah yang esa (1Kor.8:4), yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang setara, sama-sama ada dari kekal sampai kekal, sama-sama dipermuliakan, dan sama-sama berkuasa.

TRINITARIAN

Untuk lebih jelasnya marilah kita mempelajari ajaran Tritunggal. Istilah Tritunggal tidak ada dalam Alkitab dan ajaran Tritunggal juga tidak diciptakan gereja atau ditentukan di Konsili Nicea (325 M)! Bila kita membaca Alkitab Perjanjian Lama (PL) dan terlebih Perjanjian Baru (PB) yang ditulis pada abad I M, gambaran mengenai ‘Allah yang Esa dengan Tiga Kepribadian yang bernama Bapa, Anak dan Roh Kudus’ sudah ada secara de-facto sekalipun tidak dirumuskan secara de-jure. Karena adanya gambaran mengenai tiga pribadi dalam keesaan Allah itu, maka nama Trias dan Trinitas ditujukan kepadanya.

Pada abad II M, dalam tulisan Theofilus dari Antiokia digambarkan ketiga pribadi Allah yang esa itu dengan sebutan ‘Trias’ (yunani), kemudian muncul dalam tulisan Tertulianus dalam bentuk latinnya ‘Trinitas.’ Pada abad III M, dalam tulisan-tulisan ‘Origenes’ sudah sering istilah Trinitas disebutkan, bahkan muridnya bernama Gregory Thaumaturgus menuliskan istilah ‘Trinitas’ sebagai pengakuan percaya (credo) dalam tulisannya ‘Ekhthesis tes pisteos.’ Jadi sejak awal memang gambaran mengenai ketiga pribadi dalam diri Allah yang esa yang tersirat dalam PL + PB disebut sebagai Trias (yunani) atau Trinitas (latin) sudah ada sekalipun tidak berupa credo, ini menggambarkan keyakinan umat pada umumnya. Sejak itu, pujian “Kemuliaan bagi Bapa, melalui Anak, dalam Roh Kudus” menjadi umum seperti ditulis dalam tulisan Clement (I Clement: 58,59) dan Justinus (Apologia, I.67). Pujian lainnya sebelum Nicea yang umum diucapkan oleh para Bapa Gereja adalah: “Kemuliaan kepada Bapa, kepada Anak, dan kepada Roh Kudus.”

Sebagai ajaran, Trinitas sudah bisa ditemui pada abad III dalam tulisan para apologet yaitu a.l. dalam tulisan Justinus (Apologia I,vi) dan Athenagoras (Leget: pro Christ,n.12). Demikian juga tulisan Irrenaeus (Adversus Haeresis I,xxii,IV,xx,1-6) menolak ajaran Gnostik yang menganggap bahwa Logos diemanasikan/keluar dari Bapa dan bukan berasal dari substansi Bapa jadi lebih rendah dari Bapa. Ajaran Trinitas juga dikemukakan dalam tulisan Clement (Paedagog, I,vi) dan disusul Gregory Thaumaturgus seperti sudah disebutkan diatas. Dibalik itu pada abad III itu ada juga yang menyimpang dari keyakinan Trinitas, ini dipelopori oleh Noetius dari Smyrna yang disalahkan oleh sinode lokal pada tahun 200 M dan dikenal sebagai Modalisme Yaitu Tuhan yang satu itu dianggap berganti-ganti dalam tiga cara penampakkan pada saat yang sama (simultaneus modalism). Sabellius menganggap Tuhan itu satu menyatakan diri dalam PL sebagai Bapa, dalam PB sebagai Anak dan sejak hari Pentakosta menampakkan diri sebagai Roh Kudus (kemudian dikenal sebagai ajaran Sabellian[isme] atau successive modalism, Sabelius diekskomunikasi pada tahun 220 M).

Lalu mengapa sering dikaitkan seakan-akan Trinitas merupakan produk Konsili Nicea pada tahun 325 M? Pada abad IV M, seorang penatua dari Aleksandria bernama Arius (dari namanya disebut faham Arian[isme]) terpengaruh ajaran Gnostik dan Neo-Platonis mengemukakan bahwa karena Logos (Yesus) diperanakkan oleh Bapa maka ia sebelum lahir pernah tidak ada dan adalah ciptaan yang tidak sama dengan substansi Bapa jadi lebih rendah dari Bapa. Kontroversi inilah yang mencetuskan diadakannya Konsili Nicea yang dihadiri 300 uskup yang 90 persennya menolak pandangan Arius dan mempertahankan pandangan Bapa-Bapa Gereja sebelumnya, Nicea kemudian menghasilkan “Credo Nicaeum” yang meneguhkan kembali “keTuhanan Yesus yang setara dan sehakekat dengan Bapa.” Semangat Nicea ini kemudian diperluas dalam ‘Credo Athanasius’ yang berbunyi: “Kami menyembah Satu Allah Tritunggal, Tritunggal yang Esa, tidak membaurkan ketiga pribadi dan juga tidak membagi hakekat Allah.” Credo ini disebutkan dalam surat yang dikeluarkan Konsili Konstantinopel (381), dan kemudian diteguhkan dalam ‘Konsili Chalcedon’ (451 M). Jadi, Kosili Nicea tidak menciptakan ajaran Tritunggal tetapi menolak ajaran Arius (Arianisme / Unitarianisme) yang melawan keyakinan Tritunggal, sedangkan Konsili-konsili selanjutnya hanya memberi perumusan credo Trinitas yang sudah lama yang sejak awal dipercayai umat.

Allah Itu Esa Yang Jamak

Allah yang Esa merupakan pengakuan untuk didengar umat (Shema) bahwa “TUHAN itu esa!” (Ul.6:4). Kata Esa dalam bahasa Ibrani ditulis ‘Ekhad’ dan menjadi pegangan kepercayaan monotheisme dalam agama Yahudi. Apakah arti sebenarnya ‘Ekhad’ itu? Ekhad artinya ‘satu,’ dan sekalipun ini dipandang oleh orang yahudi sebagai tunggal, ekhad dalam PL juga menyiratkan ‘gabungan jamak’ seperti dalam sebutan ‘keduanya menjadi satu daging’ (Kej.2:24), ‘menjadi satu bangsa’ (Kej.34:16), dan ‘seluruh jemaah itu bersama-sama (ekhad)’ (Ezr.2:64),’ atau gabungan menjadi satu papan’ (Yeh.37:17). Dalam bahasa Ibrani ada kata ‘satu’ yang lebih menyatakan ‘tunggal yang mutlak’ yaitu ‘Yakhid’ (Kej.22:2). Dari sini tersirat secara implisit adanya kejamakan dalam keesaan TUHAN. Kenyataan ini terbukti dalam diri filsuf Yahudi Maimonides, ketika menyusun ’13 Pengakuan Iman’nya menggantikan Ekhad dengan Yakhid untuk menjelaskan hakekat Tuhan yang Esa.

Sekalipun dalam PL ungkapan Tritunggal tidak dinyatakan secara eksplisit, namun ada beberapa petunjuk yang mengarah kepada kejamakan pribadi dalam keesaan TUHAN. Nama yang pertama digunakan dalam PL adalah ‘Elohim’ (Kej.1:1; dalam PL digunakan 2500X) yang berbentuk jamak (plural majestic/jamak kebesaran) padahal dalam bahasa Ibrani ada bentuk tunggalnya ‘Eloah’ (Ul.32:15-17; Hab.3:3; dalam PL digunakan 250X). Elohim juga berfirman dan menyebut diri-Nya dengan ungkapan jamak: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej.1:26), bahkan YHWH/Elohim juga menyebut: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita” (Kej.3:22) dan YHWH berfirman: “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka” (Kej.11:7). Dalam Yes.6:8 juga disebutkan “Siapa akan pergi untuk Kita?” Contoh ini tidak eksplisit bercerita mengenai Tritunggal namun menyiratkan secara implisit bahwa ada ke jamakan dalam ke’Esa’an YHWH/Elohim.

Tiga Pribadi Yang Tunggal

Dalam Perjanjian Lama (PL) memang ke’tiga’an Allah tidak terungkap secara eksplisit seperti dalam PB, namun secara implisit terlihat adanya dua pribadi lainnya yang khas ‘Malak Yahweh’ yang dibedakan dengan malaekat pada umumnya (Kej.16:7,13; 22:11-12; Kel.23:20-23) demikian juga dengan ‘Ruach Elohim/Ha-Kodesh’ (Kej.1:2;6:3; Ayb.33:4; Mzm.51:13;139:7; Yes.11:2), keduanya sering mempersentasikan YHWH sendiri. Dalam Yes.48:12-16 dan 63:7-14, ketiga pribadi disebutkan bersama. Malak Yahweh sering menyatakan diri sebagai manusia, Ia menemui Hagar (Kej.16) dan berkata atas Nama-Nya sendiri dan dipanggil ‘El-Roi’. ‘Ia bergumul dengan Yakub dan menyatakan diri sebagai Allah’ (Kej.32:28-32). Bila pribadi pertama ‘Bapa’ tidak pernah menyatakan muka-Nya kepada manusia (Kel.33:20), Malak Yahweh sebagai pribadi kedua sering memimpin bani Israel sebagai figur Malaekat yang berotoritas mengidentifikasikan diri sebagai Yahweh dan bisa dilihat muka-Nya (band.Yoh.1:18), seperti ‘Menahan Abraham membunuh anaknya Ishak’ (Kel.14) dan ‘Menampakkan Diri kepada Abraham’ (kej.17,18), ‘Menyuruh Gideon’ (Hak.6), ‘Menubuatkan kelahiran Simson’ (Hak.13), ‘Menyuruh Elia ke gunung Horeb’ (1Raj.19), dan ‘Menyuruh Daud membangun Bait Allah di Yerusalem’ (2Raj.19:35). Ia juga menyatakan diri sebagai ‘Hakim pembela Israel’ dari para musuh (Bil.22:22-35; 2Raj.19:35).

Sekalipun dalam PL ada kesan bahwa ‘ruach’ adalah tenaga batin, ‘Ruach Elohim’ berarti ‘Pribadi Roh’. Mengenai ‘Roh Kudus’ juga dijumpai banyak ayat dalam PL yang menunjukkan ke’Allah’an dan ke’pribadi’an-Nya. ‘Roh Kudus hadir dalam awal Penciptaan’ (Kej.1:2) dan juga ‘Ia adalah pencipta’ (Ayb.33:4), Ia juga secara aktif hadir pada Akhir Zaman (lihat kitab Wahyu).

Tritunggal dalam Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru (PB) penyataan tentang ke’Tritunggal’an Allah lebih jelas. Dalam Pembaptisan Yesus kita melihat tiga saksi pembaptisan yaitu ‘Bapa, Anak dan Roh’ dan ini kemudian menjadi saksi pembaptisan dalam Perintah Memberitakan Injil dimana kita menjumpai ketiga Nama disebutkan sebagai tiga pribadi terpisah namun Esa:

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Mat.3:16-17).

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat.28:19).

Rasul Paulus memberi salam dalam ke’Tritunggal’an Allah:

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” (2Kor.13:13; band. 1Kor.12:4-6)

Demikian juga Rasul Petrus menyebutkan:

“Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” (1Ptr.1:2).

Ayat lain yang juga menyiratkan ke’Tritunggal’an Allah seperti a.l. penglihatan Stefanus mengenai ‘Anak disebelah kanan Bapa di surga dan Roh Kudus yang mendampinginya di dunia’ (Kis.7:55).

Mengenai ‘Anak’ sebagai Allah, dijumpai banyak ayat, dinubuatkan nabi Yesaya sebagai ‘Allah Perkasa’ (Yes.9:5) bernama ‘Imanuel’ (Yes.7:14, Allah menyertai kita, Mat.1:23). ‘Yesus adalah Allah’ bersama ‘Bapa’ sejak awal (Yoh.1:1,14; Kol.2:9), Ia menyebut diri sebagai ‘Tuhan’ (Mat.13:13,14), ‘Yesus mengaku ‘ego eimi’’ yang adalah pengakuan Bapa (Yoh.8:58, band. Kel.3:14 [LXX]). Baik Anak maupun Bapa disebut ‘Alfa dan Omega’ (Why.1:8;21:6;22:13) dan ‘Awal dan Akhir’ (Why.1:17;2:8;21:6;22:13). Keselamatan adalah dalam nama ‘Bapa’ (Yl.2:32) dan juga dalam nama ‘Anak’ (Kis.4:12).

Mengenai ‘Roh Kudus’ juga dijumpai banyak ayat menunjukkan kepribadian dan ke’Allah’an-Nya. Mendustai ‘Roh Kudus’ adalah ‘Mendustai Allah’ (Kis.5:3-4), ‘Ia Membangkitkan’ (Rm.8:11). Roh Kudus (Roh Kebenaran) adalah ‘Pribadi yang akan mendampingi umat beriman’ (Yoh.14-16). ‘Menghujat Roh tidak akan diampuni’ (Luk.12:10, padahal Yesus karena dianggap ‘menghujat Allah’ maka disalibkan). ‘Roh Kudus akan mengajar kita.(Luk.12:12), dan ‘Roh Bapa akan berbicara dalam diri umat’ (Mat.10:20). Sekalipun dalam ayat-ayat diatas seakan-akan hanya Bapa dan Anak yang terlibat sebagai Alfa/Awal dan Omega/Akhir, kita dapat melihat kehadiran Roh Kudus juga sejak Alfa/Awal (band.Yoh.1:1 dengan Kej.1:1-2) sampai Omega/Akhir di sorga (Why.14:13;22:17).

Berbeda dengan pandangan Sabellian (successive modalism) yang menyebutkan bahwa pada masa PL Tuhan menyatakan diri sebagai Bapa, PB sebagai Anak dan sesudah hari Pentakosta menyatakan diri dalam Roh Kudus, Alkitab menunjukkan bahwa ketiganya ada setiap saat yang dibutuhkan seperti pada pembaptisan Yesus, namun berbeda pula dengan simultaneus modalism yang beranggapan bahwa Allah yang satu itu berganti-ganti pada saat yang sama menyatakan diri-Nya, Alkitab menyebutkan bahwa ketiganya sering hadir bersamaan secara terpisah dan saling berinteraksi seperti dalam peristiwa pembaptisan Yesus maupun penglihatan Stefanus.

Alkitab dengan jelas memang menunjukkan bahwa pada masa PB ‘Anak’ diutus oleh ‘Bapa’ sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sesudah kenaikan Yesus ke surga, Anak Allah mengutus ‘Roh Kudus’ sebagai ‘paracletos’ (penolong), tetapi itu hanya peristiwa khusus sebab secara umum ketiganya juga bekerja setiap waktu sesuai kebutuhan Allah sendiri dalam menjalankan rencana-Nya. Kelihatannya perbedaan antara ketiga pribadi terletak pada fungsi-nya, sekalipun banyak peran lainnya dilakukan bersama oleh ke’tiga’ pribadi Allah. Pada Akhir Zaman, sesuai penglihatan rasul Yohanes dalam kitab Wahyu, kita dapat melihat bahwa ketiga ‘pribadi’ Allah, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, bekerja bersama-sama secara aktif sesuai fungsi yang diemban masing-masing. *** Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org

12 komentar:

  1. SELAMA bertahun-tahun, ada banyak tentangan atas dasar Alkitab terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian itu, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.
    Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church, ”Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan; . . . pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin . . . Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen.”
    Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak dibaptis ini di Konsili Nicea? Encyclopædia Britannica menceritakan, ”Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan . . . rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ’dari satu zat dengan Bapa’ . . . Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.”
    Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil keputusan demi keuntungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi mengapa? Pasti bukan karena keyakinan apapun dari Alkitab. ”Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani,” kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah bahwa perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekaisarannya, dan ia ingin memperkuat wilayah kekuasaannya.
    Namun, tidak seorang uskup pun di Nicea mengusulkan suatu Tritunggal. Mereka hanya memutuskan sifat dari Yesus tetapi bukan peranan roh kudus. Jika suatu Tritunggal merupakan kebenaran Alkitab yang jelas, tidakkah mereka seharusnya mengusulkannya pada waktu itu? SETELAH Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.
    Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas.
    Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan karena itu mengalami penindasan yang kejam. Baru pada abad-abad belakangan Tritunggal dirumuskan dalam kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana mengatakan, ”Perkembangan penuh dari ajaran Tritunggal terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi disetujui.

    BalasHapus
  2. SELAMA bertahun-tahun, ada banyak tentangan atas dasar Alkitab terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian itu, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.
    Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church, ”Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan; . . . pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin . . . Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen.”
    Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak dibaptis ini di Konsili Nicea? Encyclopædia Britannica menceritakan, ”Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan . . . rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ’dari satu zat dengan Bapa’ . . . Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.”
    Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil keputusan demi keuntungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi mengapa? Pasti bukan karena keyakinan apapun dari Alkitab. ”Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani,” kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah bahwa perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekaisarannya, dan ia ingin memperkuat wilayah kekuasaannya.
    Namun, tidak seorang uskup pun di Nicea mengusulkan suatu Tritunggal. Mereka hanya memutuskan sifat dari Yesus tetapi bukan peranan roh kudus. Jika suatu Tritunggal merupakan kebenaran Alkitab yang jelas, tidakkah mereka seharusnya mengusulkannya pada waktu itu?

    BalasHapus
  3. SETELAH Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.
    Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas.
    Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan karena itu mengalami penindasan yang kejam. Baru pada abad-abad belakangan Tritunggal dirumuskan dalam kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana mengatakan, ”Perkembangan penuh dari ajaran Tritunggal terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi disetujui.”

    BalasHapus
  4. TRITUNGGAL didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia. Athanasius adalah seorang pendeta yang mendukung Konstantin di Nicea. Kredo yang memakai namanya berbunyi, ”Kami menyembah satu Allah dalam Tritunggal . . . sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”
    Tetapi, para sarjana yang mengetahui benar masalahnya setuju bahwa Athanasius tidak menyusun kredo ini. The New Encyclopædia Britannica mengomentari, ”Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di Perancis Selatan pada abad ke-5. . . . Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di Roma.”
    Jadi dibutuhkan waktu berabad-abad sejak zaman Kristus bagi Tritunggal untuk dapat diterima secara luas dalam Susunan Kristen. Dan dalam semua hal tersebut, apa yang membimbing keputusan-keputusannya? Apakah Firman Allah, atau apakah pertimbangan para pendeta dan politik? Dalam Origin and Evolution of Religion, E. W. Hopkins menjawab, ”Definisi ortodoks yang terakhir dari tritunggal sebagian besar adalah masalah politik gereja.”

    BalasHapus
  5. SEJARAH yang tidak baik dari Tritunggal ini cocok dengan apa yang Yesus dan rasul-rasulnya nubuatkan akan terjadi setelah zaman mereka. Mereka mengatakan bahwa akan ada kemurtadan, penyelewengan, penyimpangan dari ibadat sejati sampai kembalinya Kristus, yaitu saat ibadat sejati akan dipulihkan sebelum hari manakala Allah membinasakan sistem perkara-perkara ini tiba.
    Mengenai ”Hari” itu, rasul Paulus mengatakan, ”Sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka.” (2 Tesalonika 2:3, 7) Belakangan, ia menubuatkan, ”Sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” (Kisah 20:29, 30) Murid-murid Yesus yang lain juga menulis mengenai kemurtadan ini dengan golongan pendetanya yang ”durhaka.”—Lihat, misalnya, 2 Petrus 2:1; 1 Yohanes 4:1-3; Yudas 3, 4.
    Paulus juga menulis, ”Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.”—2 Timotius 4:3, 4.
    Yesus sendiri menjelaskan siapa yang ada di balik kemurtadan dari ibadat sejati. Ia mengatakan bahwa ia telah menabur benih yang baik tetapi musuhnya, Setan, akan menabur lalang di ladang. Maka ketika muncul tunas pertama dari gandum, muncul juga lalang. Jadi, penyimpangan dari Kekristenan sejati harus diharapkan terjadi sampai tiba musim menuai, pada waktu Kristus akan membereskan perkara-perkara. (Matius 13:24-43) The Encyclopedia Americana mengomentari, ”Ajaran Tritunggal dari abad ke-4 tidak dengan saksama mencerminkan ajaran Kristen yang mula-mula mengenai sifat Allah; sebaliknya, ini adalah penyimpangan dari ajaran tersebut.” Maka, dari mana asalnya penyimpangan ini?—1 Timotius 1:6.

    BalasHapus
  6. MENGAPA, selama ribuan tahun, tidak seorang pun dari nabi-nabi Allah mengajarkan umat-Nya mengenai Tritunggal? Pada kesempatan terakhir, tidakkah Yesus akan menggunakan kecakapannya sebagai Guru Agung untuk menjelaskan Tritunggal kepada para pengikutnya? Apakah Allah akan mengilhami ratusan halaman dari Alkitab namun tidak menggunakan pengajaran ini untuk mengajarkan Tritunggal jika hal itu memang ”doktrin utama” dari iman?
    Apakah orang-orang Kristen harus percaya bahwa berabad-abad setelah Kristus dan setelah mengilhami penulisan Alkitab, Allah akan mendukung perumusan suatu doktrin yang tidak dikenal oleh hamba-hamba-Nya selama ribuan tahun, doktrin yang merupakan ”misteri yang tidak dapat dimengerti” ”di luar jangkauan akal manusia”, doktrin yang diakui mempunyai latar belakang kafir dan ”sebagian besar adalah masalah politik gereja”?
    Bukti dari sejarah sudah jelas: Ajaran Tritunggal adalah penyimpangan dari kebenaran, kemurtadan darinya.

    BalasHapus
  7. Mereka yang percya Yesus = Allah dan belum pernah baca jaswaban mengenai pertanyaan yang saya sampaikan dibawah ini.
    Jujur belum pernah baca maka , silahkan coba menjawabnya.

    Pertanyaannya sederahana saja:

    TIGA HARI SEBELUM YESUS DIBANGKITKAN I A A D A D I M A N A.

    Mudah-mudahan berhasil supaya diketahui apakah Yesus = Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Dylan. P

      Anda menguji orang Kristen dengan bertanya :

      SELAMA TIGA HARI S E B E L U M YESUS DIBANGKITKAN I A
      A D A D IM A N A?

      Anda jelas-jelas tidak tahu Iman Kristen. Selama Ia meninggal, Ia
      turun ke dalam kerajaan maut.

      Mati bukan berarti TIDAK ADA. Ia mati karena memang Ia sedang menjadi manusia. Manusia mestinya lapar, haus, ngatuk dsb dan mati.

      Dalam Allah yang satu itu ada 3 pribadi : Bapa, Putra dan Roh Kudus. Yesus itulah Allah Putra, Kalimatullah atau Firman Allah.

      Yesus ini berkuasa untuk ke mana saja, termasuk ke dunia orang mati. Namun Ia berkuasa atas dunia kematian itu, sehingga Ia bangkit.

      Jadi usaha anda untuk mempermalukan Iman Kristen jelas salah dan sangat memalukan. Anda berpikir Yesus = Allah kurang pas. Yang benar, Yesus itu salah satu pribadi dari Allah.

      ALLAH = Bapa, Putra dan Roh Kudus.

      Yang turun ke dalam kerajaan maut itu adalah Allah Putra yang turun ke dunia menjadi manusia seperti saya dan anda.

      Hapus
  8. Baca Kejadian 1 : 28 dan kemudian baca BIl 23 : 19;
    Yesaya 46 : 10, dan Yesaya 55 : 11.
    Baca juga Yesaya 11 : 6-9; 35 : 5-6 ; 33 : 24.

    Setelah dibaca semuanya,buatlah kesimpulan:Apakah benar,alkitab mengajarakan ,bahwa semua yang selamat akan naik ke sorga/hidup di sorga?

    Memang ada orang-orang yang akan hidup di sorga.Mereka adalah orang-orang yang dapat PANGGILAN sorgawi,[Ibrani :3:1].
    Tetapi kamulah bangsa yang TERPILIH,imamat yang RAJANI,bangsa yang KUDUS,umat kepunyaan Allah sendiri,....
    [1 Petrus 2 :9]

    Mereka adalah orang-orang yang akan bersama-sama memerintah dengan Yesus.

    Jika kita mati dengan Dia,kitapun akan hidup dengan Dia;jika kita bertekun,kitapun akan ikut MEMERINTAH dengan Dia. [2 Tim 2 : 12]

    Atau tidak tahukah kamu,bahwa orang-orang KUDUS akan menghakimi dunia. Tidak tahukah kamu,bahwa kita akan menghakimi MALAIKAT-MALAIKAT?

    Mereka hanya kelompok kecil saja, dibandingkan dengan mereka yang akan menghuni bumi.
    Janganlah takut,hai kamu kawanan kecil!Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu . Lukas 12:32.

    Dan aku melihat: sesungguhnya ,Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan 144.000 orang dan di dahi mereka tertulis namaNya dan nama BapaNya. Wahyu 14: 1.

    Siapa yang mengajarkan TIDAK BENAR?

    BalasHapus
  9. Yesus adalah Allah.
    Berarti Manusia Yesus,adalah Ya Allah,Ya Manusia.

    Sewaktu Yesus mati dibunuh,maka manusia Yesus mati,tetapi bagaimana dengan Allah Yesus" Apakah ikut mati? Apakah Allah BISA mati?

    Kalau sewaktu Yesus dibunuh Allah Yesus TIDAK mati,maka berarti bahwa Yesus belum juga mati sehari penuh,sudah ada Yesus.Jadi tidak perlu ada kenbangkitan Yesus pada hari ketiga.[Lukas 24 :7]

    1 Petrus 3 : 18 mengatakan bahwa Yesus telah dibunuh dalam keadaanNya sebagai manusia,tetapi dibangkitkan menurut Roh [mahkluk rohani,tubuh rohani]

    Jadi bisa dikatakan,bahwa Yesus TIDAK pernah mati.
    Bukan yang diajarkan alktab. Ingat tebusan Yesus.

    Sewaktu Yesus mengatakan kepada si penjahat bahwa pada hari itu juga si penjahat akan bersama-sama dengan Dia di Firdaus. Ini sama sekali TIDAK benar,sebab kalau si penjahat betul-betul BISA bersama-sama dengan Yesus pada HARI ITU juga,maka ini berarti bahwa Yesus sudah dibangkitkan pada hari itu juga,Jadi belum penuh sehari mati sudah dibangkitkan.
    Lagi-lagi menyalahi alkitab yang mengatakan bahwa Yesus dibangkitkan pada hari ketiga.

    Kalau kita renungkan dengan baik-baik kedua penjelasan diatas,maka kita akan sampai pada kesimpulan,bahwa TIDAK MUNGKIN : YESUS = ALLAH.

    Sekian semoga membantu.

    BalasHapus
  10. Pribadi Roh, Allah ,Yesus, Roh kudus, hal tersebut selalu menjadi bahan debat dalam menyimpulkan keadaan dan kebenarannya.

    BalasHapus
  11. Pribadi Roh, Allah ,Yesus, Roh kudus, hal tersebut selalu menjadi bahan debat dalam menyimpulkan keadaan dan kebenarannya.

    BalasHapus